• Photo Galery

    • January 2012
      MSSRKJS
      1234567
      891011121314
      15161718192021
      22232425262728
      293031    
  • Archives

  • Content Tag

  • Testimonials

    • Selamat Datang cak ... di dunia maya flexi land .. Ntar kalau ada cara flexter ikutan yooo !!!!
  • Blog Roll

  • Statistik

      Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 2113 kali
  • Subcribe RSS of this blog
  • 07 Agustus 2008

    START from OURSELF !!!

    Ditulis oleh Agoes Tandy Rahardjo dan telah dikomentari sebanyak 0 buah

    Ketika saya diberitahu melalui sms mengenai lomba flexter blogging ini, saya sebenarnya sungkan dan malas. Lha wong saya ini belum satu bulan baru belajar mengenai blog. Weleh-weleh… Lalu saya pun mengintip ke flexiland, wow! Saya cukup terkejut, ternyata banyak juga yang ikut. Setelah melihat berbagai tulisan yang dikirim mengenai ide membangunan bangsa, saya pun bangga sekaligus heran. Bangga karena banyak sekali ide – ide brilian yang dilontarkan, heran karena banyak sekali yang menyalahkan pemerintah kita.

     

    Pemerintah sebagai pemimpin bangsa ini memang sebenarnya yang bertanggung jawab atas bangsa ini, tapi mereka kan juga ada karena pilihan kita, iya kan ?? Hehehe.. Jika terus saling menyalahkan, terus kapan kita membangun bangsa ini ? Sudahlah, percuma buang – buang waktu dan energi saja.

     

    do urselfJika ingin membangun bangsa ini, ya ayo kita lakukan dari diri kita sendiri, start from ourself ! Yang namanya membangun bangsa tuh kan bukan membangun mesin atau infrastruktur saja, justru yang penting kan membangun manusia yang menjalankannya. Bahasa kerennya Man behind the gun. Jadi yang perlu kita lakukan ialah memperbaiki moral dan knowledge kita. Kan percuma saja mempunyai negeri kaya, tapi penduduknya ga bisa mengelola dengan baik. Iya kan?

     

    Trus yang diperbaiki siapa dulu ? Ya aparat pemerintahan kita. Ibaratnya masak’ mau menyapu dengan sapu yang kotor ? Ntar bukannya jadi bersih, tapi malah jadi tambah kotor. Etos kerja aparatur pemerintahan kita memang harus segera ditata ulang. Etos kerja yang bagaimana yang harus dihilangkan ? Ya yang tidak menjiwai pekerjaannya. Jadi maksudnya, aparat pemerintah harus benar-benar mencintai pekerjaannya sebagai bagian penting dari hidupnya. Jadi bekerja itu bukan sekadar mencari uang, tapi juga harga diri. Contohnya seperti para pejabat yang sekarang jadi “seleb dadakan” di TV alias koruptor yang udah tertangkap. Mereka itu merendahkan pekerjaannya, pekerjaan mereka bisa dibeli dengan uang alias disuap. Wah.. kalau di Jepang sudah bunuh diri semua tuh...

     

    Lalu pertanyaan yang seringkali juga terdengar ialah: Apa yang negara sudah berikan kepada saya ? Hal inilah yang sudah nggak zaman, seharusnya kan “Apa yang sudah kita berikan pada negara ini?” Kan tuh kalimat udah terkenal dari John F. Kennedy, lama banget... hehehe. Atau ibaratnya, seperti cinta seorang ibu kepada anaknya. Karena begitu cintanya sang ibu kepada si anak, maka ia pasti memberikan yang terbaik untuk anaknya, bukannya malah meminta sesuatu dari anaknya. Jadi, ayo semuanya bangsa Indonesia berikan yang terbaik bagi bangsa ini. Dengan semangat, pasti bisa.

     

    Tapi apa ya yang bisa kita berikan buat bangsa ini ? Ya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Hal ini penting banget, karena setahu saya masih banyak orang di bangsa ini yang gak menghargai kemampuan atau kepunyaan mereka saat ini. Contohnya, seorang tukang ledeng yang selalu mengeluh akan pekerjaannya, maunya ia bisa jadi direktur atau CEO aja. (wakakaka...ekstrem bgt). Tapi, ada suatu cerita nyata menarik mengenai seseorang yang menghargai pekerjaannya (kebetulan juga tentang tukang ledeng), check out at my blog (http://gsmetro.blogspot.com). Singkatnya, hargai apa yang kita punya, jika kita lakukan dengan sungguh-sungguh pasti berhasil.

     

    Yang sering salah di bangsa ini (sepengetahuan saya lho ya), ialah banyak orang yang duduk di kursi pemerintahan yang tidak sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Misalnya saja, menteri yang mengurusi masalah A, eh malah berlatar belakang pendidikan B yang tidak ada sangkut pautnya. Beberapa di antara mereka hanya ingin mendapat keuntungan dari jabatan mereka. Jadi intinya, kita harus bisa mengembangkan kemampuan kita masing – masing. Yang pandai berdagang, ya jadilah seorang pedagang yang sukses. Yang kreatif, ya jadilah seniman atau pergunakanlah bakatmu semaksimal mungkin di jalur yang benar. Jangan semuanya mau jadi politisi; artis masuk politik, pengusaha jadi wakil presiden, negara ini terlalu banyak politisi, mending kalo banyak yang bagus, eh... banyak yang busuk...

     

    Ayo masyarakat Indonesia, jadilah masyarakat yang berani menolak segala tindakan yang merugikan orang lain, jangan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Dengan persatuan yang kokoh, dengan semangat gotong royong mari kita bangun diri kita bersama-sama menjadi bangsa yang lebih baik. Janganlah kita bermalas-malas karena kekayaan alam yang melimpah, karena semuanya itu akan sia-sia tanpa kerja keras kita.

    (read more ...)

    07 Agustus 2008

    Membangun Bangsa Melalui Semangat Entrepreneurship

    Ditulis oleh Agoes Tandy Rahardjo dan telah dikomentari sebanyak 0 buah

    mind - entrepreneurEntrepreneurship, mendengarnya mungkin kita akan terbayang pengusaha besar, sukses, dan kaya. Sebagian dari kita mungkin juga menganggap entrepreneur sama dengan pedagang. Semua itu tidak salah. Entrepreneurship ialah kewirausahaan, di mana dituntut adanya inovasi dan kreasi sehingga terciptalah nilai tambah dari suatu produk atau jasa. Pedagang hanyalah sebuah contoh kecil dari entrepreneur atau seorang wirausahawan. Seorang entrepreneur selalu jeli dalam melihat sebuah kesempatan dan tidak mudah pantang menyerah jika mengalami kegagalan.

     

    Yup, entrepreneurship adalah jalan untuk membangun bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Suatu bangsa bisa menjadi besar, apabila memiliki banyak entrepreneur atau wirausahawan. Namun ironisnya, di negara kita hanya terdapat 0,18 % wirausahawan dari total penduduk Negara ini. Idealnya, suatu negara minimal memiliki 2 % wirausahawan dari total penduduknya. Jadi seharusnya di Indonesia terdapat lebih dari 4 juta wirausahawan. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang 40 % penduduknya ialah wirausahawan. Pantas kan Amerika Serikat mampu menjadi salah satu negara terbesar...

     

    Bagaimana entrepreneur dapat menjadi jawaban bagi keterpurukan bangsa ?

     

    Dengan semakin banyaknya entrepreneur, maka semakin banyak lapangan pekerjaan yang tercipta. Dengan demikian, pengangguran pun akan semakin sedikit. Hal ini pun akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara ini. Di bidang sosial pun akan terjadi perbaikan, di mana dapat mengurangi disparitas pendapatan. Hal ini akan mengurangi tindak kejahatan di masyarakat. Wah... banyak kan efek positifnya ?!

     

    Terus apa yang harus kita lakukan ?

     

    entrepreneurYa tumbuhakan jiwa entrepreneurship di masyarakat kita. Bagaimana caranya ? Melalui pendidikan sejak usia dini. Saya pribadi setuju dengan Ir. Ciputra yang menanamkan pendidikan entrepreneurship di semua sekolahnya. Janganlah masyarakat berpikir negatif bahwa pendidikan entrepreneur akan membuat generasi tersebut mata duitan. Hal ini salah kaprah. Sekali lagi, entrepreneur bukan hanya soal uang, tetapi bagaimana menumbuhkan jiwa yang kreatif, mampu berinovasi, dan tidak mudah putus asa.

     

    Yang patut disayangkan pula di negara ini ialah banyak para mahasiswanya yang setelah lulus kuliah, sibuk cari kerja sana – sini. Jika tidak mendapat pekerjaan malah putus asa. Mereka kurang berani mengambil risiko untuk membuat usaha sendiri. Hal ini sebenarnya bukanlah salah mereka sepenuhnya, mereka begitu karena di masyarakat kita sudah terbentuk mindset atau pola piker bahwa setelah kuliah ya cari pekerjaan mapan di perusahaan besar, syukur – syukur kalau dapat gaji tinggi pula. Iya kan ? hehehe… Pola piker inilah yang harus segera dirubah. Ajarkan kepada para mahasiswa pendidikan entrepreneurship. Tapi ingat! Pendidikan tersebut haruslah yang dapat dipraktikkan, jangan hanya buat cari nilai yang setelah ujian akan hilang semuanya.

     

    Membangun (atau mungkin lebih tepat disebut memperbaiki) bangsa sebesar Indonesia tentu bukan perkara yang mudah. Tidak semudah membalikkan telapak tangan dan tidak dapat pula dicapai dalam waktu yang singkat. Tapi saya percaya, bahwa jika Indonesia mampu menghasilkan entrepreneur – entrepreneur sukses, pada tahun 2030 Indonesia akan menjadi negara yang hebat, negara yang mampu berbicara banyak di tingkat Asia bahkan Internasional. Maju terus bangsaku, tanah airku, Indonesia.

    (read more ...)

    07 Agustus 2008

    Membangun Bangsa: Transportasi

    Ditulis oleh Agoes Tandy Rahardjo dan telah dikomentari sebanyak 0 buah

    Hmm.. Membangun bangsa. Mendengarnya saja, mungkin sudah membuat kita pusing dan malas. Jangankan untuk membangun bangsa, membangun keluarga yang baik saja susah sekali. Membangun bangsa – akan lebih tepat jika dikatakan memperbaiki bangsa – memang sulit apalagi jika bangsa ini sudah terpuruk. Diperlukan banyak waktu, tenaga, serta banyak pula masalah yang harus diselesaikan. Saat ini, saya hanya mau memberikan ide mengenai sekelumit masalah yang dihadapi bangsa ini, karena jika harus membahas semua masalah di bangsa ini, wah… tentu akan menjadi panjang sekali.

    transportasi

    Masalah transportasi sepertinya sudah menjadi masalah klasik di negeri ini. Siapa sih orang di Indonesia yang ga pernah jengkel akibat buruknya sistem transportasi di negeri ini ? Mulai dari masalah kemacetan yang kian hari kian parah, angkutan umum yang ga berubah – berubah, mulai dari banyaknya pencopet hingga tidak adanya rasa nyaman di angkutan umum, juga masalah pembangunan jalan yang tak kunjung usai. Ck..ck..ck..

     

    Di beberapa kota besar seperti Jakarta dan Surabaya sebenarnya sudah ada beberapa perubahan positif di bidang transportasi, misalnya Jakarta dengan proyek busway Trans Jakarta dan Car Free Day, dan Surabaya dengan proyek komuter dan jalur pedestrian nya. Proyek-proyek terrsebut patut diacungi jempol. Namun patut disayangkan, sejumlah masyarakat ada yang menolak, misalnya busway yang dianggap malah bikin macet dan membuat kecelakaan, padahal mereka kecelakaan akibat salah mereka sendiri yang melanggar rambu.

     

    Masalah transportasi, merupakan masalah vital bagi sebuah kota yang merupakan bagian dari suatu negara. Transportasi seharusnya menjadi hal yang diperhatikan serius oleh pemerintah kota. Saat ini di Indonesia, masyarakatnya memiliki kecenderungan untuk menggunakan kendaraan bermotor pribadi, baik mobil maupun sepeda motor. Hal tersebut akan membuat jalan yang terbatas menjadi tidak memadai yang menimbulkan kemacetan dan pemborosan BBM. Selain itu, yang tidak kalah penting, juga menimbulkan polusi. Tuh kan... satu masalah merembet ke banyak hal. Trus bagaimana dong solusinya ?

     

    Solusinya tentu memperbaiki sistem transportasi juga kebiasaan warganya. Tapi yang perlu diutamakan ialah memperbaiki sistem atau sarana nya terlebih dahulu, karena warga lama – kelamaan pasti akan menyesuaikan perilaku mereka. Bagaimana mungkin warga mau jalan kaki jika tidak ada jalur pedestrian ? Bagaimana mungkin warga mau bersepeda jika tidak ada jalur bersepeda ?

     

    Kota yang baik ialah yang mempu menyejahterakan masyarakat luas. Bukan hanya warga yang kaya yang bisa hidup nyaman, namun semua warganya, baik kaya maupun miskin. Jalan kaki, bersepeda, dan naik angkutan umum ialah solusi yang baik untuk sistem transportasi kota. Bukannya tidak boleh naik mobil atau kendaraan bermotor, tetapi mengurangi frekuensinya. Hal ini sudah diterapkan di berbagai negara maju, seperti Jepang dan Singapura, di mana warganya jarang menggunakan kendaraan pribadi bermotor. Lalu apa yang harus dilakukan pemerintah kota kita ya?

     

    Pertama, pemerintah dapat menaikkan pajak bagi kendaraan bermotor. Jadi masyarakat tidak bisa dengan murahnya membeli sebuah mobil atau motor baru. Seperti di Singapura, pajak kendaraan bermotornya mahal sekali, begitu juga dengan harga mobil baru, bisa berkali-kali lipat dibanding harga mobil di Indonesia. Umur mobil pun dibatasi, sehingga tidak ada mobil – mobil tua berpolusi yang bisa seenaknya melaju di jalanan negara kota tersebut, hasilnya udara kota pun bersih dan jarang sekali ada mobil mogok yang menyebabkan kemacetan di jalan.

     

    Kedua, memperbaiki sarana angkutan umum. Yang paling mudah dilihat, contohlah sistem busway. Nyaman, murah, dan yang gak kalah penting on time. Ganti kendaraan umum yang sudah tua, memang membutuhkan dana yang besar, tapi pemerintah kan bisa menggandeng pihak swasta. Ubah sistem angkutan umum yang suka nge-tem dan berhenti seenaknya menjadi lebih teratur dan hanya bisa berhenti di halte-halte yang sudah dibikin. Biasakan masyarakat yang jalan kaki untuk mencapai tempat yang ingin mereka tuju. Jadi angkutan umum seperti bemo bisa on time.

     

    Ketiga, untuk membiasakan masyarakat berjalan kaki setelah turun di halte untuk menuju tempat tujuannya, pemerintah perlu membangun jalur pedestrian yang terintegrasi dengan halte. Bangun jalur pedestrian, bukan hanya trotoar sempit. Jalur pedestrian ini tentu harus dilengkapi dengan sarana-sarana seperti lampu dan petugas keamanan agar warga bisa nyaman dan aman untuk berjalan kaki. Oh ya, jangan lupa bangun tempat untuk beristirahat.

     

    Semua hal di atas memang tampaknya sulit dilakukan, namun pasti bisa, jangan menganggap semua ini adalah mimpi atau wacana belaka. Pemerintah kota atau pihak yang berwenang terkait harus berani mengambil tindakan untuk mewujudkan semua ini. Semua hal pasti mengandung risiko, jadi jangan patah semangat untuk mewujudkannya. Ini pesan buat para pemimpin yang baru atau yang akan dipilih pada pilkada periode ini. Jadi, pak / bu walikota atau gubernur atau bupati atau presiden sekalian, jangan patah semangat untuk membangun bangsa ini, khususnya kali ini dalam hal transportasi. Biarlah segelintir orang menentang, toh.. ini demi kemajuan kita bersama.

    (read more ...)

    07 Agustus 2008

    Membangun bangsa: Anak - Anak sebagai Aset Bangsa

    Ditulis oleh Agoes Tandy Rahardjo dan telah dikomentari sebanyak 0 buah

    bangga anak ind

    Minggu lalu, tepatnya tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Berbagai acara, iklan, maupun film di televisi diwarnai oleh anak – anak. Seketika itu saya pun terhenyak. Ya, anak – anak itu yang kelak akan memimpin bangsa ini, di tangan mereka bangsa ini diharapkan mampu bangkit.

     

    Anak – anak adalah aset suatu bangsa. Namun ironisnya, aset itu hingga kini tak kunjung diperhatikan pemerintah. Masih banyak anak Indonesia yang putus sekolah, bahkan tak sedikit pula yang tak pernah merasakan bangku sekolah. Padahal, menurut UUD ’45 menyatakan bahwa anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Namun, hingga bangsa ini sudah merdeka hampir 63 tahun, pasal tersebut belum juga terlaksana.

     

    Memang dari dulu sudah ada program WaJar (wajib belajar) 9 tahun, yang kini rencananya akan ditingkatkan menjadi 12 tahun. Namun, hingga kini jangankan 12 tahun atau 9 tahun, masih banyak anak Indonesia yang “ngoyo” hanya untuk lulus SD hanya karena tidak punya biaya. Seharusnya pemerintah serius dalam menyikapi hal ini, jangan hanya membuat peraturan atau kebijakan yang tak diawasi kelanjutannya atau tak jelas juntrungannya. Bahkan saat ini dalam APBNP 2008, anggaran pendidikan malah diturunkan menjadi 15,6 %, hanya karena masalah minyak. Ck..ck..ck

     

    Sebuah survei menyebutkan bahwa anak Indonesia termasuk yang paling banyak menghabiskan waktunya di depan televisi dibanding anak-anak dari negara lain. Memprihatinkan, itulah kata yang mungkin pas setelah mendengar hasil survei tersebut. Inilah saatnya bagi para orang tua untuk mengajak anak-anaknya bermain di luar, melihat kehidupan dengan nyata, bukan hanya dari bingkai televisi. Sudah saatnya pula bagi pemerintah  menyeleksi dan menyediakan acara yang sesuai untuk anak-anak. Salah satu contoh dari ketidakbecusan dalam memberikan acara TV yang sesuai untuk anak-anak ialah saat ini banyak anak-anak yang sudah mengenal pacaran, lagu-lagu cinta, bahkan seks sebelum waktunya.

     

     

    Sekarang, karena kesibukan para orang tua, mereka seenaknya menitipkan pendidikan anak-anaknya sepenuhnya kepada pihak sekolah. Hal ini salah. Pendidikan, bukan hanya mengenai ilmu pengetahuan, tetapi juga mengenai pembentukan karakter dan hal itu sebagian besar dipengaruhi dalam tumbuh kembang anak di tengah keluarga. Jadi, peran keluarga sangat penting dalam tumbuh kembang anak.

     

    Beberapa waktu lalu, kita mendengar mengenai kemenangan tim olimpiade fisika kita menang di tingkat internasional, bahkan sudah beberapa tahun berturut-turut. Kemudian disusul berita mengenai kemenangan tim olimpiade biologi, juga kemudian matematika SMP, juga kemudian di bidang kimia. Wah, sungguh prestasi yang membanggakan. Namun selanjutnya apa yang harus dilakukan pemerintah terhadap potensi anak-anak bangsa yang membanggakan tersebut? Pemerintah harus memberikan apresiasi sekaligus dorongan kepada mereka. Inilah yang saya rasa kurang dari pemerintah Indonesia, sehingga banyak sekali anak Indonesia yang cerdas dan berbakat yang memilih hijrah ke luar negeri dan malah mengembangkan negara lain bukan Indonesia.

     

    Sudah saatnya membangun dan mengembangkan generasi muda, generasi penerus yang cakap dan berbakat demi kemajuan bangsa ini. Caranya? Ya tentu melalui anak-anak bangsa ini. Karena di tangan mereka akan ditentukan ke mana arah bangsa ini, lebih maju, begini-begini saja, atau makin terpuruk.

    (read more ...)

    18 Juli 2008

    Check out my blog at gsmetroblogspotcom

    Ditulis oleh Agoes Tandy Rahardjo dan telah dikomentari sebanyak 1 buah

    Check out my blog at http://gsmetro.blogspot.com

    GS METRO

    Leave a comment for me, so I can make it better...

    Thank You. God Bless U

    (read more ...)

    17 Juli 2008

    Catatan Seorang Anak Bangsa

    Ditulis oleh Agoes Tandy Rahardjo dan telah dikomentari sebanyak 3 buah

     

    Catatan Seorang Anak BangsaSuatu malam saya chatting dengan seorang teman dari negeri tetangga, Singapura. Setelah berceloteh panjang lebar, entah bagaimana ia mulai bercerita mengenai kebijakan dan kelebihan negara kota tersebut. Lalu ia pun bertanya pada saya mengenai Indonesia. Saya pun bingung. Bingung akan apa yang bisa saya banggakan dari negara nan luas ini...
     

    Perasaan malu berkecamuk di dalam hati ini. Menundukkan kepala lebih sering daripada mendongakkan kepala. Itulah potret anak bangsa di hadapan dunia. Jangankan malu di hadapan dunia, terkadang kita pun dibuat malu di hadapan negara-negara tetangga kita di Asia Tenggara. Tapi, itulah mengapa dan yang seharusnya menjadi cambuk bagi kita untuk membangun bangsa menjadi lebih baik di kemudian hari.
     

    Marah, sedih, dan gelisah. Itulah perasaan anak bangsa melihat kondisi bangsa yang porak-poranda ini. Dijerat oleh krisis minyak, ditunggangi oleh para koruptor, dan dihancurkan oleh narkoba. Belum lagi, prestasi yang kian memudar dari wajah bangsa ini.
     

    Tahun 2008, dibuka dengan penuh harapan oleh seluruh masyarakat. Pemerintah mencanangkan tahun ini sebagai 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional. Semua masyarakat pun berharap berkah dari kebaikan hati para pemimpin yang akan berlaga di pesta rakyat tahun 2009. Namun, semuanya berubah menjadi derita tatkala harga minyak melambung tinggi. Pemerintah pun dengan berat hati menaikkan harga BBM. Akibatnya, di mana-mana terjadi demonstrasi. Bahkan sebagian di antara demonstrasi tersebut bersifat anarkis. Ironisnya, sebagian besar pelaku anarkis tersebut ialah kaum mahasiswa. Kaum yang mengaku sebagai generasi cerdas dan merupakan calon pemimpin bangsa di kemudian hari. Akan jadi apakah bangsa ini di kemudian hari ?

     
    Kenaikan harga minyak mentah memukul semua sektor. Ironisnya yang terkena imbas ialah sector pendidikan. Sektor yang merupakan dasar fundamental suatu bangsa di kemudian hari. Anggaran pendidikan pada APBNP 2008 menurun dari 18,9% menjadi 15,6%. Pendidikan dikalahkan oleh minyak. Bangsa yang belum pintar ini, bukannya dibuat pintar, namun malah dimanja oleh subsidi minyak. Sekali lagi, akan jadi apakah bangsa ini di kemudian hari ?
     

    Tahun ini pula, ramai-ramai para pejabat menjadi "selebritis" di media massa. Bukan karena prestasi, melainkan karena korupsi. Pejabat yang terkena pun merata, mulai dari yudikatif, eksekutif, hingga legislatif. Sebuah cermin dari bangsa yang hancur. Sekali lagi, akan jadi apakah bangsa ini di kemudian hari ?

     
    Jawabannya ada pada kita, generasi 2000. Generasi yang saat ini masih sibuk menimba ilmu. Di kemudian hari kitalah yang akan menentukan arah perjalanan bangsa ini. Maju, diam di tempat, atau mundur. Semuanya tergantung sejauh mana kita berani untuk mengambil tanggung jawab dan berperan dalam bidang kita masing-masing secara profesional demi bangsa kita tercinta, Indonesia. Mari, kita semua BANGKIT, BERSATU, dan BERANI BERBUAT untuk bangsa ini !

    (read more ...)
    footer